Ketua Dewan Pertimbangan Presiden menilai mantan Kepala Bareskrim Mabes Polri Komjen Pol Susno Duadji bisa menjadi pahlawan, jika dirinya berani membeberkan adanya dugaan rekayasa terhadap pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen dengan terdakwa Antasari Azhar.
Pria yang akrab dipanggil Buyung ini menyanyangkan atas apa yang dibeberkan Susno dalam kesaksiannya dalam sidang Antasari di PN Jakarta Selatan Kamis (7/1) kemarin, baru lah sebagian kecil saja. Padahal, jika Susno diberi porsi lebih lama lagi dan ia berani mengungkap kesuluruhan soal Tim Khusus Pengawas Polri terhadap penyelidikan kasus Antasari, maka Susno bisa menjadi pahlawan. "Kalau dia (Susno) mau bicara secara ksatria, bukan saja itu untuk meluruskan yang terjadi. Bisa jadi pahlawan dia," kata Adnan Buyung Nasution di Jakarta, Jum'at (8/1).
Pria berambut perak ini merasa khawatir ada sesuatu di balik kasus Antasari, sehingga membuat Susno berani melanggar garis komando Polri dengan membuat kesaksian di sidang Antasari tanpa bekal izin dari atasannya, Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri.
Buyung menantang Susno bersikap berani, jujur dan terbuka, jika memang ada fakta lain di balik kasus Antasari. Secara tidak langsung, jika Susno berani menguak hal tersebut, maka hal itu bisa dianggap sebagai penebusan dosanya kepada publik atas kasus krimilisasi kasus Bibit Samad Rianto dan Chandra Hamzah beberapa waktu yang lalu.
Bagi Buyung, kalau pun Susno terpaksa dipecat oleh atasannya Jenderal Pol Bambang Hendarso Danuri, hal itu adalah sebuah resiko sebagai seorang pahlawan yang berani meletakkan keadilan tanpa melihat jabatan di atasnya. "Keadilan itu lebih tinggi dari Kapolri, sekalipun itu presiden,"
Sebagaimana diketahui, Buyung adalah mantan Ketua Tim Delapan saat mengusut kriminalisasi kasus pidana Bibit dan Chandra. Jabatan Buyung di Wantimpres akan selesai pertanggal 20 Januari ini. Mungkin ini lah yang membuat dirinya bersikap kritis soal kesaksian Susno tersebut. (persdanetwork)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar